Masih ingat kan waktu kecil dulu? Kita paling senang kalau didongengi. Yang jelas, kalau mengingat masa kecil saya dulu, saya bahagia betul kalau bapak saya di rumah. Apalagi ketika kami makan malam bersama-sama. Karena saat itu, sambil menikmati makan malan, bapak saya akan mendongeng. Saya ingat betul bagaimana bapak saya duduk di ujung meja makan lonjong, dan mama saya di ujung satunya, sementara saya dan ketiga adik saya duduk di sisi kanan dan kiri mereka. Biasanya bapak mendongengi kami dengan cerita-cerita wayang. Terutama MAHABHARATA, berikut wisdom yang ada dibalik kisah-kisah yang dituturkannya. Wah, pokoknya seru rasanya.

Hal yang sama juga saya lakukan kepada kedua bocah lelaki saya. Memang bukan cerita wayang. Tetapi berbagai cerita yang teringat saja, yang terlintas di kepala saya. Tidak selalu cerita-cerita dari buku, tetapi cerita tentang masa kecil saya, masa kecil ayah mereka. Juga cerita tentang pengalaman saya dalam keseharian hidup.

Ada beda perilaku antara saya ketika masih kecil, seusia mereka, dengan mereka sekarang. Rasanya, dulu saya dan adik-adik lebih pasif, berdiam dan menyimak bapak. Sementara sekarang, anak-anak saya sibuk bertanya, mempertanyakan, mengkritisi, bahkan menambahkan bumbu-bumbu dari imajinasi mereka. Hal ini membuat acara makan malam bersama anak-anak bisa riuh rendah dengan tawa dan gurauan-gurauan.

Mendongeng, juga dilakukan di kesempatan-kesempatan bersama lainnya. Yang paling asik adalah ketika berangkat tidur, maupun saat bermalas-malasan bangun tidur di hari libur. Ini adalah salah satu alasan mengapa saya sangat menyukai, bahkan menanti-nantikan hari Sabtu dan Minggu pagi yang tidak ada job apapun.

Dalam perusahaan, sebagai sebuah organisasi formal, kegiatan mendongeng atau biasa dikenal sebagai storytelling juga digunakan untuk membangun CULTURE – budaya perusahaan. Budaya perusahaan yang terbentuk kuat akan tertampil dalam perilaku setiap insan di dalam organisasi, yang pada akhirnya akan membentuk identitas organisasi tersebut.

Menempatkan keluarga sebagai sebuah organisasi mini, sebetulnya storytelling bisa juga dimanfaatkan untuk membangun budaya dalam keluarga, sekaligus identitas diri anggota keluarganya. Contohnya, ketika saya mendongengi anak saya tentang embah-embah buyutnya, baik dari pihak si papanya anak-anak, maupun dari pihak keluarga saya, dari situ, anak-anak saya belajar tentang sejarah keluarganya, lalu belajar untuk memahami budaya yang ada di keluarganya, termasuk keluarga besar yang beraneka ragam itu... (maklum, keluarga besar saya isinya campur-campur, tidak hanya melibatkan suku-suku saja, melainkan juga bangsa-bangsa...)

Sambil demikian, identitas dirinya sebagai Reynard (anak sulung saya) dan Raphael (adiknya) terbentuk. Dan saya bersyukur, meskipun kerap membutuhkan penerjemah, sampai sekarang sih mereka berdua lumayan lentur untuk masuk ke mana-mana, bergaul dengan siapapun dan berbaur dengan kebiasan-kebiasaan yang berbeda, tanpa terlihat adanya indikasi kegamangan. Sebagai ibunya, saya menilai di dalam diri mereka semakin terbentuk identitas diri yang mantap.

Saya lalu jadi berfikir, alangkah malangnya anak-anak yang orangtuanya tidak cukup menyadari kekuatan dari mendongeng. Dari kegiatan yang sangat sedehana ini, sebetulnya ada banyak ekspresi relasi yang juga bisa terbangun antara orangtua dengan anaknya. Sebetulnya mendongeng itu bukan sekedar bertutur tentang sebuah cerita, entah cerita fiktif maupun cerita pengalaman di masa lampau. Melalui mendongeng, seorang ayah bisa mengekspresikan cinta yang kuat kepada keluarganya. Melalui mendongeng, seorang ibu bisa menorehkan pendidikan keimanan kepada anak-anaknya. Melalui dongeng, anak belajar tentang kehidupan, tentang romantikanya, tentang nilai, tentang kebijaksanaan. Dalam mendongeng, ada sebuah kekuatan imajinasi yang berkembang di situ. Di dalam mendongeng ada sebuah ketrampilan berkomunikasi yang di asah. Dalam mendongeng ada banyak manfaat yang begitu luar biasa yang bahkan tidak terkatakan. Padahal kegiatan ini nyaris tampak sangat sepele, bukan?

Jadi mari mulai melakukan mendongeng sebagai kebiasaan dan ritual keluarga kita. Demi anak-anak kita, agar mereka tumbuh sebagai anak-anak yang sehat, pintar dan punya identitas diri yang kuat. Dan tentu saja demi masa depan mereka.
Jl. H. Rausin No. 47
Kelapa Dua, Kebon Jeruk - Jakarta Barat
Telp./Fax : +6221-5306160
SUDUT PSIKOLOGI
Ratih Ibrahim, psikolog

Ibu Ratih, demikian panggilannya, adalah ibu dari dua anak lelaki. Psikolog lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini berfokus pada psikologi anak, remaja, dan dewasa. Ibu Ratih memiliki segudang pengalaman dalam bidang pendidikan dan pendampingan remaja. Selain bergelar psikolog, Ibu Ratih juga meraih gelar Magister Manajemen untuk bidang Pemasaran dari Prasetya Mulya Business School, Jakarta.
Kegiatan Ibu Ratih saat ini, selain membesarkan Personal Growth, beliau berprofesi sebagai staf pengajar di Fakultas Psikologi Ukrida, Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, dan Fakultas Komunikasi Universitas Tarumanegara. Ibu Ratih juga kerap berperan sebagai nara sumber di berbagai media publik, serta berkiprah sebagai psikolog di dunia hiburan, di antaranya Indonesian Idol 1, 2, 3, 4 di RCTI dan program televisi Cinta di O Channel setiap minggu pertama dan ketiga di hari Senin, pukul 13.30.