Membantu Anak menjadi Mandiri dan Pandai
Dengan Kesabaran, Kasih Sayang dan Rutinitas
Dunia ini diciptakan dan dibentuk oleh Tuhan dengan segala keteraturannya. Begitu juga dengan kehidupan kita sebagai manusia, kehidupan kita merupakan rangkaian rutinitas yang teratur. Mulai dari kegiatan di pagi hari sampai malam hari, semua adalah rutinitas yang telah kita atur dan jalani setiap hari. Demikian juga bagi bayi dan anak-anak. Kita sering tidak menyadari bahwa kegiatan rutin yang kita ciptakan untuk anak berperan besar terhadap perkembangan mereka.
Rutinitas membantu bayi dan anak belajar mengontrol diri.
Rutinitas yang konsisten adalah kegiatan yang terjadi di waktu yang sama dan dilakukan dengan cara yang sama setiap hari. Apapun kegiatannya, seperti waktu bermain, waktu tidur siang, waktunya makan ataupun kegiatan lainnya, bila dilakukan setiap hari dengan cara dan waktu yang sama akan membuat anak merasa nyaman dan aman. Dengan mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya seperti misalnya habis makan lalu bermain dan tidur siang, akan memberikan kestabilan emosi pada anak. Disini anak belajar untuk percaya kepada orang tua/pengasuhnya bahwa mereka akan memberikan apa yang mereka butuhkan. Ketika anak sudah merasakan rasa aman dan mena-ruh kepercayaan kepada orang tua maupun pengasuhnya, maka mereka akan merasa bebas dan nyaman untuk “bekerja” dalam arti untuk bereksplorasi, bermain dan belajar.
Rutinitas membuat kita dan anak menjadi lebih dekat dan dapat mengurangi sifat melawan anak.
Seperti yang dijelaskan di atas, rutinitas yang stabil akan membantu anak untuk mengantisipasi kegiatan apa yang akan terjadi selan-jutnya. Hal ini akan membuat anak menjadi percaya diri, dan juga memiliki kontrol atas dirinya. Misalnya saja bila orang tua sudah memberitahu anak waktunya tidur, bila jam tidurnya selalu sama dan kegiatan sebelum tidur seperti membacakan cerita dan menggo-sok gigi rutin dilakukan, maka anak juga tidak akan melawan. Orangtua dapat memberikan pilihan pada anak seperti mau ganti piyama dulu atau menggosok gigi dulu, mau berdoa dulu atau dibacakan cerita dulu. Disini anak belajar membuat keputusan yang akan menambah rasa percaya dirinya. Rutinitas juga dapat mengurangi jumlah kata-kata “tidak boleh/tidak” yang dikeluarkan oleh orang tua atau mengo-reksi tingkah laku mereka, karena anak sudah dapat memprediksi kegiatan apa yang terjadi selanjutnya.
Rutinitas mengarahkan anak pada tingkah laku yang positif dan rasa aman.
Rutinitas seperti instruksi atau aturan memandu anak pada tujuan tertentu yang positif. Rutinitas juga dapat digunakan untuk beragam alasan, tapi yang paling penting adalah untuk kesehatan dan keamanan mereka, dan mem-bantu anak untuk belajar tingkah laku yang positif dan bertanggungjawab. Misalnya mencuci tangan sebelum makan, atau harus memegang tangan orang tua ketika naik eskalator atau menyebrang jalan.
Misalnya: Justin yang berumur 2,5 tahun, setiap sore bermain dengan mainan mobilnya sementara mamanya membantu kakaknya yang sudah kelas dua mengerjakan PR. Ketika mama dan kakaknya sudah selesai, maka sudah waktunya bagi mereka untuk menunggu papa mereka pulang di depan rumah. Semua mainan mobil harus dikembalikan ke dalam kotak mainannya. Mama akan
memberitahu Justin kapan waktunya merapikan mainannya, “Ok, Justin, sekarang waktunya untuk mengembalikan mobil-mobil itu ke garasinya di dalam kotak dan kembalikan ke rak mainan.”
Justin menyimpan mobil mainannya ke dalam kotak dan meletakan kotaknya ke rak mainan. Setiap hari mereka melakukan kegiatan rutin ini dan Justin tahu di mana harus mencari mobil mainannya jika ingin bermain lagi. Dia juga tahu setelah merapikan mainannya mereka akan bertemu papa mereka dan berjalan-jalan di taman dekat rumah yang membuat Justin selalu senang. Demikian juga dengan kakaknya, selalu bersemangat mengerjakan PR di sore hari karena tahu apa yang akan mereka lakukan setelah itu.
Rutinitas membantu anak mengembangkan ketrampilan sosialnya.
Ketika bayi tumbuh dan berkembang, mereka berinteraksi dengan banyak orang dan mulai belajar bentuk dan rutinitas untuk interaksi sosial. Mengucapkan salam dan berbincang-bincang dengan orang lain merupakan salah satu bentuk interaksi rutin yang mengajarkan ketrampilan sosial. Interaksi ini juga merupakan kesempatan belajar bagi anak untuk mengem-bangkan kemampuan bahasanya.
Waktu makan dan waktu bermain merupakan dua kegiatan yang melibatkan orangtua dan anak secara sosial. Melalui obrolan, berbagi mainan, menunggu giliran, meminta maaf, belajar untuk menunggu dan menolong yang lain, semua kegiatan ini membuat anak mendapatkan ketrampilan sosial yang sangat penting yang akan membantu mereka di sekolah nantinya.
Rutinitas membantu anak menghadapi masa transisi dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya dengan mudah.
Masa transisi dari satu kegiatan ke kegiatan rutin lainnya dapat dilakukan dengan mudah maupun susah tergantung dari temperamen anak. Terkadang sangat sulit membuat anak berhenti bermain untuk makan atau untuk tidur. Tetapi bila kita sudah mempunyai kegiatan rutin yang telah menjadi kebiasaan, maka dapat membantu masa transisi menjadi lebih mudah.
Rutinitas memberi kesempatan bagi anak untuk belajar banyak.
Kegiatan sehari-hari kelihatannya hanyalah rutinitas biasa yang kita lakukan, seperti mandi, tidur, bermain, pergi ke taman dsb. Tetapi justru kegiatan-kegiatan tersebut yang memberi kesempatan kepada anak untuk belajar dan mengembangkan diri sambil bersenang-senang. Kegiatan rutin memberi kesempatan bagi anak untuk membangun rasa percaya dirinya, ke-ingintahuannya, ketrampilan sosialnya, kontrol dirinya, ketrampilan berkomunikasi dsb.
Misalnya pada saat makan buah. Justin diajak mamanya untuk makan buah. Ia diajak untuk cuci tangan dan membuka kulkas dan melihat buah yang ada di kulkas.
“Lihat ada apel dan pisang,” kata mama-nya. “Apel warnanya merah dan pisang warna-nya kuning.” Mama lalu mengambil satu buah pisang dan satu buah apel. “Ayo pegang Justin dan rasakan bagaimana halusnya permukaannya. Kamu ingin makan yang mana?”
Justin memilih apel.
“Mari kita cuci dan potong apelnya.” Mama memberi Justin pisau roti untuk memotong apel dan mama memberi contoh bagaimana memotong apel tersebut. “Lihat ada berapa potong apel yang kamu potong.”
Mereka lalu menghitung bersama-sama dan memakannya. Justin sangat senang dan bangga dapat memotong apel sendiri. Dia juga belajar melatih motorik halusnya dengan menggunakan pisau dan mengembangkan kognitif skillsnya dengan menghitung apel yang dipotong.
Contoh kecil di atas adalah interaksi sederhana yang akan membuka kesempatan bagi anak untuk mandiri dan pandai. Mama Justin membuat Justin tahu bahwa Justin dapat dan mampu melakukan hal yang sangat penting seperti memilih apa yang ingin dimakan, mem-bersihkannya dan memotongnya.
Dengan rutinitas kita telah memberikan dua kunci bagi anak untuk belajar, yaitu kasih sayang dan pengulangan (yang bagi kita kadang membosankan, padahal bagi anak rutinitas yang sama sangatlah menyenangkan, untuk itu orangtua harus bersabar mengikuti langkah anak). Karena itu orang tua juga harus menikmati saat-saat bersama anak karena jika anak merasa senang dan menikmati kebersamaannya dengan kita maka mereka juga belajar banyak dari kegiatan yang kita berikan.
Oleh: Ratna Ekawati, Pre-primary Coordinator Sekolah Tunas Muda, Jakarta

