Perkembangan Anak

Dalam Order, Konsentrasi, Kordiasi dan Kemandirian, Yang Diimbangi Pembentukan Karakter


Menurut Barbara Lewis, dalam bukunya Character Building (6:2004), yang dimaksud dengan karakter adalah mempunyai kualitas positif seperti peduli, adil, jujur, disiplin, hormat terhadap sesama, dan bertanggung-jawab. Kita sebut semua kualitas sebagai ciri karakter.

Karakter tidak muncul dengan sendirinya tetapi karakter harus dibentuk dan dikembangkan. Masa terbaik untuk mulai membentuk karakter anak adalah pada usia dini/balita karena pada usia ini, menurut Dr. Maria Montessori, anak-anak mempunyai masa sensitif. Masa sensitif adalah masa anak melewati fase dimana mereka terserap oleh suatu kegiatan dan anak akan berulang-ulang melakukan kegiatan tersebut tanpa alasan dan mereka benar-benar terhanyut oleh kegiatan tersebut. Pada saat itu hanya kegiatan itulah yang paling menarik bagi mereka.

Orangtua dapat dengan mudah melihat dan mengenali masa sensitif ini, misalnya; balita yang baru belajar berjalan akan tertarik untuk naik turun tangga dan akan berusaha dengan keras untuk melakukannya sendiri dan tidak suka dipegangi. Hal ini kadang akan membuat orangtua kesal karena lelah mengikutinya. Dalam situasi ini sebaiknya orangtua maupun guru kelas toddler tidak menyebut anak tersebut nakal, karena menurut Montessori, anak itu sedang mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan kepribadiannya melalui panca indera.

Kita tidak boleh membatasi gerak dan naluri alami yang dimiliki anak ini agar keingintahuan dan kebutuhannya terpenuhi dan terpuaskan. Pada saat menaiki atau menuruni tangga, anak sedang membentuk dirinya. Ia membentuk daya konsentrasinya dengan kegiatan yang berulang-ulang dan daya konsentrasi ini terbentuk karena anak tahu kapasitas kemampuannya untuk melakukan kegiatan tersebut. Anak juga belajar tentang keteraturan dan koordinasi mata, tangan dan kaki dengan melangkah menaiki anak tangga satu per satu. Anak juga membentuk rasa percaya diri dan harga dirinya. Ada kepuasan tersendiri yang tidak dapat diukur bila ia mampu melakukan kegiatan itu sendiri. Anak juga belajar menjadi mandiri. Otomatis bila ia dapat menaiki dan menuruni tangga dengan sempurna ia tidak merepotkan orang lain.

Guru dan Orangtua dapat membantu anak mengembangkan kepribadian, pengetahuan
dan ketrampilannya dengan cara sebagi berikut:

• Selalu menyediakan lingkungan yang aman dimana mereka dapat bereksplorasi dengan aman dan nyaman serta mengajarkan bagaimana mereka menjaga diri mereka sendiri, misalnya ketika mereka main pasir di siang hari, kita ajarkan mereka untuk perduli pada diri mereka sendiri dengan cara melindungi diri dari sinar matahari seperti dengan memakai topi atau mengoleskan sunblock cream.

• Mengenali masa sensitif anak dan membiarkan anak tersebut melakukan suatu kegiatan yang sama berulang-ulang sampai ia merasa puas. Anak yang mempunyai kebutuhan untuk berulang-ulang menendang bola sebagai kegiatan untuk membentuk koordinasi motorik kasarnya akan tantrum bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi.

• Menjadi model yang baik bagi anak, karena anak selalu ingin meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Ia melihat karakter-karakter di sekitarnya dan ia akan membentuk karakter dari dalam dirinya sesuai dengan apa yang dilihatnya. Bila ia selalu melihat hal yang positif maka ia akan membuat dirinya menjadi positif.

• Membantu anak untuk belajar sesuatu step-by step/satu demi satu/selangkah demi selangkah. Membentuk konsentrasi anak harus dengan selalu memberikan kegiatan yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak. Anak-anak akan hilang rasa ketertarikannya ketika suatu hal terlalu sulit atau terlalu mudah bagi anak.

• Menghargai anak secara individu, tidak membandingkan mereka dengan yang lain, menghargai pendapat dan pikiran mereka. Misalnya Anak diajak berdiskusi mengenai rencana liburan. Dengan cara ini anak belajar bertukar pendapat, berpikiran terbuka, menghargai pendapat yang lain, serta membuat keputusan sederhana.

• Ajarkan anak cara mengerjakan sesuatu dengan benar daripada kita sibuk mengoreksi kesalahan mereka. Jika perlu, kita harus selalu siap menunjukan cara melakukan sesuatu yang benar berulang-ulang sampai kita yakin ia mengerti apa yang harus dilakukan. Cobalah untuk membentuk self discipline dengan contoh, motivasi dan alasan-alasan yang dapat diterima oleh anak.

Kontributor: Ratna Ekawati – PrePrimary Coordinator
• Membiarkan anak untuk aktif, memberi kesempatan pada anak untuk belajar dengan mengeksplorasi dunia di sekitarnya melalui panca inderanya tapi masih dalam batas-batas aturan yang telah ditetapkan, misalnya anak boleh main menuang-nuang air, agar konsentrasi, koordinasi dan kemandiriannya terbentuk, tapi anak juga diajarkan bagaimana memanfaatkan air agar karakter kepedulian terhadap lingkungan terbentuk, dan juga bagaimana merapikannya setelah bermain. Anak diajarkan mengapa harus mengeringkan area yang terkena air, dan meletakan peralatannya ke tempat semula sehingga anak memahami konsep self discipline dan juga peduli pada orang lain di sekitarnya agar tidak ada yang terpeleset kena tumpahan air.

Links


Login Form
Featured Links