Perspektif Tunas Muda International School
Dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Usia dini oleh para ahli disebut sebagai masa keemasan (golden age) bagi seorang anak. Menurut Jerome Bruner dalam bukunya “the Process of Education” (1990); di usia dini ini kompetensi anak untuk belajar sangat tidak terhingga. Konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920, mengatakan bahwa; bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi.
Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini. Pemikiran inilah yang membuat banyak orangtua dan pendidik merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Sehingga saat ini marak berkembang preschool dan TK untuk mengakomodasi keinginan orangtua yang ingin menyekolahkan anak-anak balita mereka.
Bahkan saat ini berkembang tren untuk menciptakan anak menjadi superkid, yang menguasai segala macam kemampuan intelektual. Oleh karena itu saat ini banyak orangtua dan pendidik yang tergoda untuk melakukan pemberdayaan anak yang berorientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak mereka membaca, berhitung dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan ‘peluang emas’nya untuk menjadi anak yang pintar. Di rumah para orangtua mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis mengajarkan bayi membaca, dan mereka berlomba-lomba memasukkan anak mereka ke preschool atau TK yang menawarkan program akselerasi atau kelas unggulan yang kurikulumnya dikemas dengan muatan 90% bermuatan kognitif dan 10% afektif..
Orangtua atau guru mungkin lupa atau mungkin tidak tahu bahwa untuk menjadi seorang dewasa yang berkepribadian matang, seorang anak harus menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sesuai dengan rentang usianya. Adapun tugas-tugas perkembangan untuk anak usia dini adalah belajar berjalan, belajar makan, berlatih berbicara, koordinasi tubuh, kontak perasaan dengan lingkungan, pembentukan pengertian sosial, dan belajar moral. Untuk memenuhi tugas perkembangan ini anak-anak dibantu oleh orang dewasa di sekitarnya yaitu orangtua dan guru. Untuk dapat membantu anak mencapai kemandiriannya maka orangtua dan guru harus memahami bahwa:
• Usia dini adalah usia bermain, berimajinasi dan menjadi tuan bagi diri sendiri
• Anak-anak merupakan pribadi yang unik dimana setiap anak memiliki minat, bakat, kemampuan dan cara belajar yang berbeda.
• Orangtua dan guru juga harus memiliki keyakinan bahwa setiap anak sudah dibekali Tuhan keinginan untuk belajar dan menjadi mandiri.
Jadi jangan sampai kita membunuh/mencabut keinginan belajar dan keindahan masa kanak-kanak mereka hanya karena ingin menciptakan anak superkid seperti tren yang terjadi saat ini.
Neil Postman seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka ketika mereka dewasa mereka menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan. Dan ini sudah terbukti, misalnya Michael Jackson, yang selalu berusaha memujudkan impian masa kanak-kanaknya atau yang terjadi pada William James Sidie putra seorang psikiater di Amerika yang karena kecerdasan otaknya masuk ke Harvard College pada usia 11 tahun. Prestasinya menghiasi media masa beberapa tahun lalu. Tapi apa yang terjadi kemudian? James Thurber seorang wartawan terkemuka pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidie.
Orang tua harus jeli memilih sekolah yang akan menjadi partner mereka dalam mendidik anak-anak mereka. Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, fisik dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Dan pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan.
Jangan sampai kita memberikan pendidikan yang tidak sesuai kebutuhan anak seperti misalnya memberikan pelajaran membaca di usia bayi dimana bayi sesungguhnya masih lebih memerlukan latihan-latihan sensori dan koordinasi mata, tangan dan kaki daripada kebutuhan membaca. Atau kita memberikan pendidikan yang tidak seimbang dimana kita hanya mengembangkan faktor kognitif dan mengabaikan faktor emosi, padahal ketrampilan mengelola emosi sangat dibutuhkan pada saat mereka dewasa dan terjun ke masyarakat.
Oleh: Ratna Ekawati, Pre-primary Coordinator Tunas Muda International School, Jakarta

