School Curriculum VS Parents Expectation

Anak-anak kita saat ini akan menjadi para pemimpin babak 2 dari abad ke-21. Bagaimana kita dapat menyiapkan mereka untuk dunia di masa depan, bukan dunia yang kita tinggali saat ini? Dapatkah kita memprediksi seperti apa dunia yang akan didiami oleh anak-anak kita di masa datang?

Akhirnya anak-anak dinilai berdasarkan angka-angka yang di dapat dari hasil ulangan atau ujian.
Kurikulum abad ke-21 sudah harus berorientasi internasional dimana karakteristik kurikulum internasional menurut International Baccalaureate Organization (IBO) harus:

1. Menyertakan isu-isu global, bukan hanya masalah di sebuah negara atau pada sebuah budaya.
2. Menganjurkan para siswa untuk memahami bahwa semua budaya adalah sama pentingnya, saling toleransi dan saling mengerti, menuju dunia yang damai.
3. Mengadopsi nilai-nilai antar berbagai budaya dan mendalami budaya masing-masing.
4. Mengembangkan kemampuan dan ketrampilan bertanya, evolusi pola pemikiran, memperkaya rasa keingintahuan, bakat dan kepribadian.
5. Membangun global awareness, ketrampilan dalam keuangan dan kewirausahaan, dan membangun pemikiran untuk kepentingan umum.
6. Paham akan informasi dan media serta dapat mengaplikasikannya dengan benar.
7. Membentuk anak menjadi pembelajar sejati.

Selain kurikulumnya, sekolah juga harus memiliki kepemimpinan yang menganut nilai-nilai internasionalisme dan guru-guru yang berwawasan internasional agar dapat menyampaikan isi kurikulum dengan baik sesuai dengan tujuannya.

Bila sekolah dan kurikulumnya sudah mampu mengakomodasi apa yang akan menjadi kebutuhan anak di masa yang akan datang maka orangtua sebagai mitra dalam mendidik anak juga harus mau mengubah paradigmanya tentang pendidikan.

Saat ini masih banyak orangtua yang mempunyai pandangan bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang selalu mem-berikan porsi lebih besar terhadap matematika, science dan bahasa. Memberikan PR yang banyak agar anak-anak ‘belajar’ di rumah. Orang tua menganggap bila anak tidak mengerjakan soal-soal latihan PR maka anak “tidak belajar”. Konsep belajar bagi orang tua adalah anak duduk dengan tenang menghapal fakta dan menuliskan jawaban atas pertanyaan atau membuat rangkuman. Anak-anak yang belajar dengan cara observasi, interview, membuat presen-tasi di depan kelas, membuat market day atau suatu project kadang dianggap hanya membuang-buang waktu saja. Orang tua tidak menyadari bahwa dengan cara belajar tersebut anak belajar banyak tentang life skills.

Sering kali orang tua lupa bahwa anak-anak adalah pembelajar alami yang dilengkapi dengan kemampuan untuk menyelidiki dan menemukan. “Teach Me How to Teach Myself,” itulah yang anak-anak katakan menurut Dr. Maria Montessori. Dan Galileo Galilei juga mengatakan hal yang serupa, “Anda tidak dapat mengajari orang apapun juga; anda hanya dapat membantu dirinya untuk menemukannya sendiri”. Mereka adalah dua orang ternama yang hidup di jaman berbeda tapi mempunyai pendapat yang sama tentang bagaimana seorang anak belajar. Seringkali sistem pendidikan yang salah telah menghilangkan kemampuan-kemampuan ini dan rasa cinta terhadap penemuan dan keingintahuan yang positif.

Kadangkala orangtua lupa bahwa setiap anak unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Orangtua lupa bahwa mereka memiliki multiple intelligence. Dan yang paling penting, orangtua lupa bahwa mereka adalah anak-anak masa depan bukan anak-anak abad ke-19. Orang tua harus diingatkan bahwa masa depan mereka berbeda dengan masa kini. Orangtua harus menyadari bahwa kebutuhan pendidikan di masa lalu tidak sama dengan pendidikan yang dibutuhkan di masa depan. Di abad ke-19 model pendidikan disesuaikan untuk kebutuhan industrialisasi dimana saat itu memerlukan buruh yang dapat patuh dan tekun menerima perintah dan mengerjakannya sesuai dengan standar perusahaan tanpa bertanya atau berargumentasi. Model pendidikan seperti ini sudah tidak sesuai lagi untuk menghadapi dunia masa depan.

Hal kunci yang harus diingat orangtua adalah: Pengetahuan dan teknologi akan selalu berubah dengan cepat – ketrampilan dan kemampuan untuk berpikir dan bereksplorasi untuk menemukan informasi, menganalisanya, mengaplikasikannya, merefleksikannya dan berinovasi adalah yang paling penting dan itu inti dari life-long learning.
Bapak Perdamaian dunia Mahatma Gandhi pernah berpesan: “The world is a confusing place. We can’t fix it. We need to educate the children to live in a confusing world and we must become the change we seek in the world.”
Ms. Ratna Ekawati

Links


Login Form
Featured Links